Jakarta, Matapadma – Sebaran asap karhutla dari sejumlah wilayah di luar Pulau Jawa terdeteksi melintasi lapisan atmosfer wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat hingga Senin (19/10/2026).
Fenomena kabut tipis di lapisan udara atas tersebut terpantau jelas melalui rekaman citra satelit cuaca Himawari-9 milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta sebaran konsentrasi gas karbon monoksida pada pengamatan satelit NASA Eyes on the Earth.
Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, menyampaikan bahwa partikel asap kebakaran hutan dan lahan tersebut berada pada ketinggian 2 hingga 3 kilometer dari atas tanah dan belum bercampur dengan udara bersih di permukaan daratan.
Jalur Pendakian Ditutup Akibat Kebakaran Latimojong Belum Padam Selama Sepekan
“Artinya, citra satelit Himawari-9 yang dipantau BMKG menunjukkan adanya lapisan asap di udara di atas wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Lapisan ini berada di ketinggian sekitar 2 sampai 3 kilometer dan terbawa angin di lapisan atas. Dalam bahasa sederhana, asap tersebut lewat di atas dan belum turun ke udara dekat permukaan yang kita hirup,” ujar Marjuki di Jakarta.
Ia menjelaskan keberadaan partikel melayang di atmosfer tengah dapat menyebabkan langit ibu kota tampak lebih keruh atau berwarna kelabu, namun kenampakan visual tersebut tidak serta-merta mengindikasikan lonjakan pencemaran udara di daratan.
“Lapisan asap ini dapat membuat langit tampak lebih keruh atau kelabu dan asap bisa turun ke permukaan apabila kondisi angin dan atmosfer berubah. Oleh sebab itu, BMKG terus memantau perkembangannya, termasuk melalui pengukuran PM 2.5 di permukaan,” tuturnya.
Polda Jabar Bongkar Pabrik Obat Ilegal di Bandung Berkapasitas 8 Juta Butir
Sementara itu, Marjuki menguraikan tampilan warna merah hingga jingga pada peta NASA menunjukkan konsentrasi karbon monoksida pada lapisan 500 milibar atau setara 5 hingga 6 kilometer di atas bumi, sehingga tidak dapat disimpulkan secara serampangan sebagai ancaman langsung bagi pernapasan warga.
“Karena itu, keberadaan asap di atmosfer belum tentu menaikkan polusi udara di permukaan. Masyarakat dapat merujuk pada data pengukuran PM 2.5 dari BMKG dan Indeks Standar Pencemar Udara dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk mengetahui kondisi kualitas udara di wilayahnya,” tambahnya.
BMKG bersama kementerian teknis terus mengintegrasikan data pengamatan satelit meteorologi, dinamika kecepatan angin, serta jaringan sensor darat guna mengantisipasi potensi percampuran polutan ke lapisan troposfer bawah apabila arah embusan angin mengalami pergeseran drastis.
Pihak berwenang mengimbau warga agar tetap beraktivitas secara normal sembari memperhatikan pembaruan berkala indeks kualitas udara resmi pemerintah serta menghindari aktivitas pembakaran sampah terbuka yang dapat memicu polusi lokal.
Baca Juga: DPR Sebut Aturan Syarat Pendidikan Capres dalam PKPU Tak Pernah Dibahas
Kunjungi Youtube: Matapadma








Hari ini : 151
Bulan ini : 16574
Tahun ini : 35906
Total Kunjungan : 90054
Who's Online : 16