Jakarta, Matapadma – Upaya percepatan transformasi transmigrasi di berbagai wilayah Indonesia diarahkan pada pemanfaatan riset teknologi pertanian modern berbasis kecerdasan buatan guna meningkatkan kesejahteraan warga perdesaan hingga Senin (19/10/2026).
Langkah strategis tersebut dirumuskan setelah delegasi Kementerian Transmigrasi menyelesaikan rangkaian studi inovasi dan penjajakan kerja sama agrikultur presisi di Chongqing Academy of Agricultural Sciences (CQAAS), Tiongkok.
Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, mengatakan bahwa pembangunan sentra ekonomi baru di luar Pulau Jawa tidak lagi cukup mengandalkan perluasan lahan semata tanpa dukungan basis data riset ilmiah.
“Kami belajar bahwa untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi baru, langkah pembinaan harus berbasis riset dan ilmu pengetahuan agar hasilnya terarah dan tidak sporadis,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta.
Iftitah menjelaskan bahwa salah satu inovasi yang sangat relevan diterapkan pada kawasan binaan transmigrasi adalah integrasi sistem akuaponik pintar dengan pengendalian pakan dan pemantauan kualitas air secara otomatis.
Baca Juga: Tim Mabes TNI Verifikasi Kesiapan Operasional Koperasi Desa Merah Putih di Sumenep
“Pemerintah ingin memastikan intervensi teknologi tepat guna benar-benar dipahami dan dioperasikan langsung oleh para transmigran setempat,” tuturnya.
Selain transfer teknologi agrikultur, kementerian juga membuka peluang investasi hilirisasi komoditas unggulan daerah seperti perkebunan durian di Sulawesi serta pengembangan lahan produktif di Papua melalui koordinasi bersama Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong.
“Kerja sama investasi harus diarahkan untuk membangun industri pengolahan di daerah penghasil, sehingga masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton melainkan menikmati nilai tambahnya,” jelas Iftitah.
Iftitah menambahkan bahwa hilirisasi komoditas perkebunan dan kelautan memerlukan rantai pasok yang andal serta pelatihan vokasi terarah agar tenaga kerja lokal memiliki keahlian teknis yang mampu bersaing di pasar modern.
“Kita ingin produk olahan bernilai tambah lahir langsung dari kawasan transmigrasi dan mampu menembus rantai pasok ekspor secara konsisten,” tambahnya.
Pendekatan terintegrasi serupa juga tengah disiapkan pada kawasan transmigrasi Barelang di Batam, di mana puluhan hektare lahan produktif disiapkan untuk ketahanan pangan masyarakat sebelum kawasan industri berskala besar beroperasi penuh.
Baca Juga: Pemkab Manggarai Prioritaskan Rekonstruksi Rumah Lansia Pascagempa
Iftitah berharap ekosistem ekonomi yang menghubungkan riset, teknologi otomasi, dan kepastian akses pasar ini dapat memperkokoh kemandirian pangan sekaligus membuka lapangan kerja luas bagi generasi muda di pelosok negeri.
“Melalui konsistensi riset dan kolaborasi hilirisasi, transformasi transmigrasi akan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional yang berkeadilan,” tegasnya.
Baca Juga: Ulama MUI Serukan Shalat Istisqa Serentak untuk Atasi Bencana Karhutla
Dapatkan update berita pilihan dan informasi terkini setiap hari dari Matapadma.com. Kunjungi juga kanal YouTube kami di YouTube Matapadma.










Hari ini : 1364
Bulan ini : 16154
Tahun ini : 35486
Total Kunjungan : 89634
Who's Online : 56