Jakarta, Matapadma – Gelombang seruan spiritual untuk memohon pertolongan Tuhan bergema di berbagai daerah seiring meluasnya dampak polusi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah provinsi di Indonesia pada Senin (19/10/2026).
Bencana kabut asap pekat yang dipicu kekeringan musim kemarau telah mengganggu aktivitas penerbangan antarpulau, memaksa puluhan institusi pendidikan meliburkan kegiatan belajar tatap muka, serta meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Menyikapi situasi kritis tersebut, para ulama di Masjid Istiqlal Jakarta Pusat hingga kantor pemerintahan daerah di Kalimantan menyerukan pelaksanaan ikhtiar lahir dan batin secara terpadu.
Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Arif Fahrudin, menegaskan bahwa penanganan bencana asap membutuhkan kombinasi nyata antara tindakan tegas penegakan hukum di darat serta munajat doa minta hujan kepada Sang Pencipta.
TNBTS Batasi Akses Wisata Penanjakan Bromo Hingga Lemah Pasar Akibat Kebakaran
“Aparat harus mengejar dan menindak tegas korporasi maupun pembakar lahan hutannya, namun ikhtiar langit juga harus disertakan melalui pertobatan, istighfar, dan pelaksanaan Shalat Istisqa berjamaah,” tegas Arif di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa MUI telah menerbitkan instruksi keagamaan agar para pengurus masjid, pondok pesantren, dan pimpinan ormas Islam rutin menyisipkan doa Qunut Nazilah pada pelaksanaan salat Jumat guna memohon siraman hujan rahmat yang mampu memadamkan titik api di kawasan gambut.
Polres Bogor Gelar Tes Urine di Puncak untuk Deteksi Penyalahgunaan Narkoba
“Ikhtiar spiritual ini bukan pengganti pemadaman teknis oleh Satgas Karhutla, melainkan penguat moral bagi ribuan petugas yang bertaruh nyawa menghadapi kobaran api di lapangan,” ucapnya.
Di wilayah Kalimantan Selatan, Sekretaris Umum MUI Provinsi Kalsel, Dr H Nasrullah AR, turut menggerakkan masyarakat untuk memperbanyak istighfar massal dan doa bersama lintas elemen guna memohon perlindungan dari kepungan bencana kekeringan ekstrem.
“Kami mengajak seluruh umat merendahkan hati memohon ampunan, dengan harapan Allah SWT segera menurunkan hujan yang lebat dan penuh berkah agar derita anak-anak kita akibat kabut asap segera berakhir,” ungkap Nasrullah.
Seruan keagamaan tersebut diikuti langkah nyata pemerintah daerah, seperti yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan menggelar doa bersama lintas agama dan Shalat Istisqa di halaman kantor bupati, seraya memperketat patroli pemantauan titik panas di area perkebunan.
Baca Juga: Sekjen PBB Temui Prabowo di Hambalang Bahas Perdamaian Global dan Palestina
Kunjungi Youtube: Matapadma








Hari ini : 1069
Bulan ini : 15859
Tahun ini : 35191
Total Kunjungan : 89339
Who's Online : 13