Demak, Matapadma — Tradisi Ancakan kembali digelar oleh Lembaga Adat Kadilangu di Pendopo Pangeran Wijil V Kadilangu, Demak, Selasa malam (26/5/2026). Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Lembaga Adat Kadilangu, R. Agus Supriyanto.
Tradisi Ancakan menjadi bagian dari rangkaian acara menjelang kirab dan penjamasan pusaka milik Sunan Kalijaga yang akan dilaksanakan pada Rabu (27/5/2026).
Penasihat Lembaga Adat Kadilangu, Suwadi, mengatakan bahwa kegiatan Ancakan merupakan puncak rangkaian acara adat sebelum prosesi kirab dan penjamasan pusaka dilaksanakan.
“Untuk malam ini adalah puncak dari acara yang besok akan dilaksanakan kirab dan penjamasan pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga Kadilangu,” ujarnya.
Menurut Suwadi, tradisi Ancakan telah berlangsung sejak zaman Panembahan dan menjadi budaya turun-temurun yang sarat makna sedekah, kebersamaan, serta ungkapan rasa syukur kepada masyarakat.
Ia menjelaskan, pada masa dahulu Panembahan menjalankan puasa selama tiga hari. Setelah menyelesaikan puasa, digelar syukuran dengan membagikan makanan kepada masyarakat umum.
Bupati Demak Pimpin Upacara Harkitnas ke-118, Tekankan Semangat Boedi Oetomo untuk Kedaulatan Bangsa
“Tujuannya adalah Panembahan waktu itu melaksanakan puasa tiga hari. Hari terakhir kemudian mengadakan syukuran dengan memberi sedekah makan kepada masyarakat umum,” katanya.
Dalam pelaksanaan tahun ini, sebanyak 400 ancakan disiapkan sesuai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Ancakan tersebut berisi nasi urap lengkap dengan lauk ikan asin dan empal daging. Ratusan warga tampak antusias mengikuti tradisi tersebut.
Masyarakat yang hadir tidak hanya berasal dari wilayah Kadilangu dan Kabupaten Demak, tetapi juga dari luar daerah.
“Ya banyak, dari luar kota juga ada. Sekitar Kabupaten Demak dan masyarakat sekitar,” tambahnya.
Melalui tradisi selamatan Ancakan tersebut, Suwadi berharap kegiatan budaya ini dapat mempererat kerukunan serta menambah ketenteraman masyarakat, khususnya di wilayah Demak dan Kadilangu.
DPRD Demak Gelar Paripurna Pandangan Umum Fraksi terhadap Raperda Penanganan Konflik Sosial
“Semoga dengan adanya acara selamatan Ancakan ini menambah ketenteraman masyarakat Kota Demak, Kabupaten Demak umumnya, Kadilangu khususnya, agar tetap guyub,” tuturnya.
Sementara itu, salah seorang warga Dempet, Nur Asiyah, mengaku sengaja mengikuti tradisi rebutan ancakan karena meyakini hasil ancakan membawa berkah bagi pertanian.
“Niki rebutan, berkatan nggih,” ujarnya.
Nur Asiyah menjelaskan, ancakan yang didapat dari rebutan tersebut nantinya akan dibawa pulang untuk ditaburkan di area persawahan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, cara tersebut dipercaya dapat menangkal hama tikus sekaligus mendatangkan hasil panen yang melimpah.
“Ini nanti buat ditaruh di sawah, ditabur. Biar panennya baik, melimpah, slamet,” jelasnya.
Tradisi Ancakan hingga kini masih terus dijaga oleh masyarakat Kadilangu sebagai warisan budaya leluhur yang tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga mempererat kebersamaan antarwarga.
Kunjungi Youtube: Matapadma














Hari ini : 187
Bulan ini : 9068
Tahun ini : 52746
Total Kunjungan : 353727
Who's Online : 3