Demak, Matapadma— Ratusan santri dari sejumlah pondok pesantren di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan makanan usai mengonsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Sabtu (18/4/2026). Para korban mayoritas merupakan santri yang bersekolah pada pagi hari dan kembali ke pondok pada siang hari.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Demak, Ali Maimun, menjelaskan bahwa kasus ini melibatkan sedikitnya lima pondok pesantren. Jumlah korban terbanyak berasal dari Pesantren Asnawiyah, disusul Pesantren Busnul Qur’an, Al-Ma’arif Putri, dan Hidayatul Mubtadiyin. Para santri dilaporkan mengalami gejala serupa seperti mual, muntah, pusing, diare, hingga demam.
“Keluhannya hampir sama, mual, muntah, ada juga yang diare dan demam. Diduga kuat ini keracunan makanan karena mereka mengonsumsi menu yang sama,” ujar Ali Maimun saat ditemui di kantor Dinas Kesehatan Demak, Senin (20/4/2026).
Peristiwa ini pertama kali diketahui pada Minggu pagi, setelah sejumlah santri mengeluhkan gejala tersebut. Petugas kesehatan kemudian segera membuka posko pelayanan di salah satu pesantren dengan jumlah korban terbanyak guna mempercepat penanganan.
1.464 Jemaah Haji Asal Demak Siap Berangkat, Terbagi dalam Enam Kloter
Sejumlah korban dirujuk ke berbagai fasilitas kesehatan, di antaranya rumah sakit dan puskesmas di wilayah Demak. Hingga saat ini, tercatat 68 pasien menjalani rawat inap dan 66 lainnya menjalani rawat jalan. Dengan demikian, total pasien yang masih dalam pemantauan mencapai 134 orang, sementara total keseluruhan korban terdampak mencapai 186 orang.
Di antara korban terdapat beberapa ibu menyusui dan balita yang turut terdampak, sementara tidak ditemukan kasus pada ibu hamil.
Pihak Dinas Kesehatan masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Sampel makanan dan air telah diambil untuk diuji di laboratorium, dengan hasil yang diperkirakan keluar dalam tiga hingga empat hari ke depan.
Pemkab Demak Gencarkan Program “Demang Ngantor Desa” untuk Dekatkan Pelayanan ke Masyarakat
“Kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya. Bisa berasal dari bahan makanan, proses pengolahan, atau faktor lain. Semua masih dalam pemeriksaan,” jelas Maimun.
Hasil inspeksi awal terhadap dapur penyedia makanan menunjukkan bahwa sebagian besar fasilitas telah memenuhi standar. Namun, masih ditemukan beberapa kekurangan seperti belum optimalnya alat sterilisasi dan perlengkapan kebersihan bagi petugas. Selain itu, menu makanan seperti nasi goreng dinilai memiliki risiko lebih tinggi apabila tidak diolah dengan standar keamanan pangan yang tepat.
Petugas juga menemukan bahwa sebagian santri tidak langsung mengonsumsi makanan di sekolah sesuai anjuran. Sebaliknya, makanan dibawa ke pondok dan dicampur dalam satu wadah, yang berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi, meski belum dapat dipastikan sebagai penyebab utama.
Ali Maimun mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap keamanan pangan, khususnya dalam penyediaan makanan dalam jumlah besar bagi komunitas seperti pondok pesantren.
Baca Juga: Semangat Kartini, Tiara Kusuma Jateng Dorong Perempuan Jadi Penggerak Ekonomi Modern
Kunjungi Youtube: Matapadma












Hari ini : 178
Bulan ini : 7178
Tahun ini : 40772
Total Kunjungan : 341753
Who's Online : 4