Demak, Matapadma — Sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah Karangtengah terdampak banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang di Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur. Genangan air telah terjadi selama empat hari dan merendam sejumlah ruang kelas serta lingkungan sekolah.
Humas SMPN 1 Karangtengah, Kabupaten Demak, Heri Kuntolo, menyampaikan bahwa sekitar lima hingga enam ruang kelas terendam air dengan ketinggian rata-rata di bawah lutut. Selain itu, akses menuju sekolah juga terganggu sehingga dinilai membahayakan siswa.
“Ketinggian air tergantung kondisi, namun rata-rata di bawah lutut,” ujar Heri saat ditemui di lokasi banjir, Kamis (09-04-2026).
Ia mengungkapkan bahwa pihak sekolah telah mengambil langkah cepat dengan menyedot air menggunakan pompa milik sendiri. Upaya tersebut dilakukan setelah bantuan pompa dari BPBD belum juga tiba. Sekolah diketahui memiliki tiga mesin penyedot air (sibel) yang dimanfaatkan untuk mengurangi genangan.
Polres Demak Siagakan Ratusan Personel Amankan Obyek Wisata dan Pusat Keramaian saat Libur Lebaran
“Sekolah sudah berusaha menyedot air menggunakan sibel milik sendiri agar genangan cepat berkurang. Jika tidak ada hujan dan tidak terjadi tanggul jebol lagi, kemungkinan Sabtu air sudah surut,” ungkapnya.
Akibat kondisi tersebut, kegiatan belajar mengajar sementara dialihkan ke Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) hingga hari Sabtu. Jika banjir belum surut, pihak sekolah akan mempertimbangkan perpanjangan masa PJJ.
“Sementara sampai hari Sabtu. Rencananya hari Senin siswa masuk kembali. Namun jika belum surut, akan diumumkan kembali untuk perpanjangan PJJ,” jelasnya.
Meski demikian, pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) untuk siswa kelas 9 tetap berjalan lancar. Kegiatan tersebut dilaksanakan di laboratorium komputer lantai dua sehingga tidak terdampak banjir. TKA diikuti oleh 347 siswa kelas 9.
Polres Demak Siagakan Ratusan Personel, Tanggul Jebol di Guntur Picu Banjir Meluas
Sementara itu, salah satu siswi kelas 9, Amelia Indriyanti, mengatakan bahwa kondisi banjir cukup mengganggu aktivitas siswa. Para siswa terpaksa menggunakan sandal saat mengikuti ujian karena akses yang tergenang air.
“Mengganggu, akses tidak bisa dilalui seperti biasa. Biasanya memakai sepatu, sekarang harus pakai sandal, jadi kurang terbiasa,” ujarnya.
Meski begitu, Amelia menambahkan bahwa ruang pelaksanaan TKA masih aman digunakan. Namun, ia mengaku mengalami gatal dan kemerahan pada kaki setelah mengikuti ujian di tengah kondisi banjir.
“Setelah TKA, kaki terasa gatal dan kemerahan karena kondisi banjir,” pungkasnya.
Baca Juga: Banjir Limpasan Rendam 8 Desa di Karangtengah, Sawah Petani Terdampak
Kunjungi Youtube: Matapadma












Hari ini : 213
Bulan ini : 4175
Tahun ini : 37769
Total Kunjungan : 338750
Who's Online : 2