Jakarta, Matapadma – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meresmikan dua infrastruktur tampungan air berbasis alam yakni Embung Batu Bangkong dan Embung Bambu Hitam di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, hingga Senin (19/10/2026).
Kedua waduk retensi tersebut dirancang dengan total daya tampung mencapai 36.550 meter kubik air hujan guna memperkuat sistem drainase perkotaan sekaligus meminimalkan ancaman genangan di kawasan permukiman sekitarnya.
Secara teknis, Embung Batu Bangkong menempati lahan seluas 1,3 hektare dengan luas badan air mencapai 0,58 hektare yang sanggup menampung hingga 20.300 meter kubik air, sedangkan Embung Bambu Hitam dibangun di atas area 2,1 hektare dengan luasan badan air 0,50 hektare berkapasitas 16.250 meter kubik.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menjelaskan bahwa pembangunan kedua fasilitas hidrologi tersebut mengusung pendekatan biru hijau serta solusi berbasis alam (Nature-based Solution) agar memberikan kemanfaatan ganda bagi ekosistem lingkungan perkotaan.
BNPB Ungkap 44 Titik Kebakaran Hutan di Sumsel dan Desak Hukum Tegas
“Embung Batu Bangkong dan Embung Bambu Hitam dibangun oleh Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta sebagai sarana pengendali sumber daya air, sumber air baku, sekaligus ruang interaksi publik,” kata Pramono di Jakarta.
Ia memaparkan bahwa fungsi mendasar dari keberadaan embung perkotaan adalah meresapkan limpasan air hujan ke dalam lapisan tanah secara alami dan bukan sekadar mengalirkannya ke badan sungai terdekat.
“Fungsi utama dari embung ini yaitu untuk tempat penampungan air. Jadi bukan kemudian dialirkan, tapi air itu meresap di sini, sehingga namanya menjadi tempat untuk konservasi,” papar Pramono.
Kementan dan Kemenko PM Percepat Pengentasan Kemiskinan Berbasis Pertanian
Selain menyediakan kolam tampungan utama, area di sekeliling kedua embung turut dilengkapi fasilitas publik modern, mulai dari jalur joging, taman bermain ramah anak, balai pertemuan warga, lapangan olahraga multifungsi, hingga sunken plaza dan instalasi pengolahan air limbah.
Fasilitas terpadu tersebut memungkinkan masyarakat setempat memanfaatkan kawasan embung sebagai arena kebugaran jasmani saat kemarau, sembari tetap siaga penuh menjadi zona retensi limpasan permukaan saat musim penghujan tiba.
Pramono menegaskan komitmen jajarannya untuk memprioritaskan tindakan pencegahan banjir jangka panjang yang terintegrasi, termasuk kesinambungan program normalisasi aliran Sungai Ciliwung, Kali Krukut, dan Cengkareng Drain.
“Pemerintah DKI Jakarta dalam penanganan banjir tidak hanya serta-merta kalau hujan baru dilakukan penanganannya. Kita lebih pada pencegahan, sehingga saya minta karena sudah bagus dan digunakan gratis oleh warga, perawatannya betul-betul ditangani secara baik,” ujarnya.
Baca Juga: Wamendiktisaintek Ajak Siswa SMA Garuda Kenali Potensi Diri
Kunjungi Youtube: Matapadma









Hari ini : 661
Bulan ini : 17084
Tahun ini : 36416
Total Kunjungan : 90564
Who's Online : 22