Jakarta, Matapadma – Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengecam keras pernyataan politisi Partai Republik Amerika Serikat Donald Trump yang memelesetkan nama suci Nabi Muhammad menjadi bahan lelucon politik hingga Senin (19/10/2026).
Pernyataan kontroversial yang memicu kemarahan luas umat Islam sedunia tersebut disampaikan Trump saat berpidato di hadapan para pendukungnya di North Carolina, Amerika Serikat. Dalam pidatonya, mantan presiden AS tersebut menyebut nama ‘Mohammad’ dengan nada mengejek ketika menyinggung isu imigran dan keberadaan komunitas Muslim di negara barat.
Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas, menegaskan bahwa tindakan menjadikan nama figur agung yang sangat dimuliakan oleh miliaran umat Islam sebagai bahan olok-olok merupakan perbuatan yang sangat menyakitkan serta mencederai rasa keadilan bersama.
Pertemuan Bilateral Prabowo dan Sekjen PBB di Hambalang Perkuat Komitmen Perdamaian
“Nama itu merupakan nama dari sosok yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh umat Islam di seluruh dunia. Menjadikannya sebagai bahan candaan jelas sangat menyakitkan hati kaum muslimin,” ujar Anwar Abbas saat memberikan tanggapan di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa seorang tokoh politik yang memegang pengaruh global semestinya memiliki kesadaran etis, kebijaksanaan diplomasi, dan penghormatan mutlak terhadap keberagaman keyakinan masyarakat dunia. Menurutnya, retorika kebencian dan lelucon berbasis identitas keagamaan hanya akan memicu polarisasi destruktif antar-peradaban.
“Seorang pemimpin politik bertaraf internasional hendaknya menjunjung tinggi adab, etika, dan nilai-nilai toleransi, bukan justru menyebarkan retorika bernada Islamofobia yang memecah belah persatuan global,” tegasnya.
Eks Pimpinan Komisi II DPR Tegaskan Aturan PKPU Syarat Cawapres Tak Pernah Dibahas
Lebih lanjut, tokoh senior Muhammadiyah tersebut menuturkan bahwa sikap saling menghormati lambang-lambang keagamaan merupakan prasyarat mutlak dalam membangun tata pergaulan internasional yang damai dan harmonis. Ia mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi di panggung demokrasi tidak boleh disalahgunakan untuk menghina keyakinan sakral komunitas tertentu.
“Kita tentu sangat menginginkan perdamaian dan kerukunan antarumat beragama di dunia terus tumbuh. Jangan sampai ambisi politik elektoral merusak tatanan toleransi yang telah dibangun dengan susah payah,” ungkapnya.
PP Muhammadiyah mengajak seluruh elemen masyarakat internasional, organisasi lintas agama, serta para pemimpin dunia untuk konsisten mempromosikan dialog antar-kebudayaan dan menolak segala bentuk ujaran kebencian. Solidaritas global dinilai menjadi kunci utama untuk meredam provokasi yang berpotensi merusak keharmonisan antar-bangsa.
Baca Juga: Menko Muhaimin Sebut Sekolah Rakyat Jadi Strategi Memutus Kemiskinan Ekstrem
Kunjungi Youtube: Matapadma









Hari ini : 414
Bulan ini : 16837
Tahun ini : 36169
Total Kunjungan : 90317
Who's Online : 23