Enrekang, Matapadma – Peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan lereng Gunung Latimojong di wilayah Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, masih terus berkobar dan meluas ke sejumlah jalur pendakian hingga Senin (19/10/2026).
Kobaran api yang membakar vegetasi semak belukar dan pepohonan kering di gunung dengan atap tertinggi di Sulawesi Selatan tersebut telah berlangsung selama tujuh hari tanpa henti, memicu kepulan asap pekat yang membubung tinggi di atas punggung perbukitan.
Pemandu pendakian atau tour guide Gunung Latimojong, Sunardi, menjelaskan bahwa kobaran api pertama kali terpantau kembali muncul dari jalur merah melalui Dusun Angin-angin sebelum merambat cepat ke pos-pos pendakian yang lebih tinggi.
Baca Juga: Pemkab Manggarai Prioritaskan Pembangunan Rumah Tahan Gempa Bagi Warga Lansia
“Api menyala sudah masuk hari ke tujuh dan sudah menyebar ke kiri dan kanan jalur. Asap yang tebal terlihat membumbung naik di lokasi ini,” ujar Sunardi di Enrekang.
Ia menambahkan titik api terparah saat ini terkonsentrasi di pos lima jalur merah, di mana kobaran merembet ke vegetasi lebat di pos empat hingga pos enam akibat kencangnya hembusan angin di ketinggian pegunungan.
“Lokasi kebakaran saat ini yang masih parah berada di pos lima jalur merah via Dusun Angin-angin,” tuturnya.
Baca Juga: Kementerian PKP Dorong Penguatan Usaha Keluarga Penerima Bedah Rumah Lewat PNM
Sunardi menuturkan penutupan jalur pendakian sejatinya telah diusulkan masyarakat sejak kebakaran melanda puncak Pentialloan berketinggian 2.650 meter di atas permukaan laut pada akhir Agustus lalu, mengingat kondisi vegetasi rimba yang sangat kering akibat kemarau panjang.
“Warga menolak jalur pendakian Latimojong dibuka karena selain beberapa titik kebakaran, kondisi hutan juga betul-betul kering,” jelasnya.
Sementara itu, Camat Buntu Batu Kabupaten Enrekang, Jasmin, menegaskan pihak pemerintah kecamatan bersama pengelola telah resmi menutup seluruh akses pendakian ke Gunung Latimojong untuk batas waktu yang belum ditentukan demi mencegah risiko kecelakaan bagi para pencinta alam.
Medan perbukitan yang sangat curam serta keterbatasan sumber air di ketinggian menjadi tantangan utama bagi tim gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Enrekang, TNI, Polri, dan relawan dalam memadamkan bara api secara manual.
Pemerintah daerah mengimbau para pendaki dan warga sekitar untuk mematuhi larangan memasuki kawasan hutan serta menghentikan seluruh aktivitas perapian guna mencegah meluasnya kebakaran menuju pemukiman warga di kaki gunung.
Baca Juga: Polisi Amankan Enam Terduga Pelaku dan Siapkan Posko Terpadu Pascatawuran Manggarai
Kunjungi Youtube: Matapadma









Hari ini : 1523
Bulan ini : 16313
Tahun ini : 35645
Total Kunjungan : 89793
Who's Online : 26