Demak, Matapadma – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menanam mangrove di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Senin (20/10/2025).
Penanaman mangrove tersebut menandai dimulainya proyek perlindungan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa melalui pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall. Langkah ini menjadi bagian dari program strategis nasional yang diprioritaskan Presiden Prabowo Subianto.
AHY menegaskan, persoalan pesisir Pantura membutuhkan penanganan terpadu. Ancaman penurunan muka tanah, kenaikan permukaan air laut, dan banjir rob tidak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan saja.
Berdasarkan penjelasan Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ), penurunan permukaan tanah di sejumlah wilayah Pantura mencapai 5 hingga 20 sentimeter per tahun, bahkan di beberapa lokasi mencapai 25 sentimeter per tahun.
“Dua ancaman ini tentunya harus kita carikan solusinya, tidak bisa hanya pasrah dan kemudian menerima nasib apa adanya,” ujar AHY saat sambutan pada Demonstration Plotting dan Dialog Perlindungan Kawasan Pesisir Pantura Jawa Berbasis Nature-Based Solutions di Timbulsloko.
AHY menjelaskan, penanaman mangrove di Timbulsloko direncanakan mencakup area hingga 200 hektare. Kegiatan ini tidak hanya untuk memulihkan pesisir Demak, tetapi menjadi gerakan nasional yang akan mencakup wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.
“Jadi kita fokus sekarang bagaimana menanam mangrove. Tadi kalau di desa ini rencananya hingga 200 hektare ya,” ujarnya.
Mangrove dinilai memiliki peran penting mengurangi abrasi jika ditanam, dipelihara, dan dijaga hingga tumbuh baik. Upaya alami ini akan didukung pembangunan tanggul pantai yang dilanjutkan dengan tanggul laut raksasa.
Masyarakat setempat turut dilibatkan dalam pembuatan struktur heksagrid yang berfungsi sebagai pemecah gelombang atau breakwater untuk menekan abrasi.
Proyek perlindungan Pantura ini melibatkan 5 provinsi, 25 kabupaten/kota, serta didukung 18 kementerian dan lembaga termasuk TNI dan Polri. Kepala BOPPJ, Laksamana TNI (Purn.) Didit Herdiawan, mengoordinasikan penanganan di lapangan.
Turut hadir Deputi Bidang Infrastruktur Bappenas, Abdul Malik Sadat, untuk memastikan perencanaan jangka panjang dan penganggaran berjalan terarah dan berkelanjutan. Pemerintah juga akan menjajaki investasi dari dalam dan luar negeri di luar APBN.
Pembangunan Giant Sea Wall tidak hanya melindungi permukiman dari banjir rob, tetapi juga menjaga kawasan industri, sentra pangan, dan jalur logistik di Pantura. Pemerintah menegaskan, pelaksanaan tetap memperhatikan Amdal dan keberlangsungan hidup nelayan.
Pembangunan akan dilakukan bertahap. Wilayah pertama mencakup Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, sedangkan wilayah kedua mencakup Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Sementara itu, Bupati Demak Eisti’anah menyampaikan apresiasi atas dimulainya program tersebut.
“Atas nama pribadi dan mewakili seluruh masyarakat Kabupaten Demak, kami menghaturkan terima kasih kepada Bapak Presiden beserta seluruh jajaran. Inilah yang kami harapkan, semoga segera terealisasi dan membantu masyarakat di wilayah pesisir dalam menanggulangi banjir rob,” ujar Eisti.
Ia menjelaskan penanganan kawasan pesisir direncanakan tiga tahap: penanaman mangrove, pembangunan tanggul pantai, dan pembangunan Giant Sea Wall.
“Penanaman mangrove menjadi langkah awal untuk mendukung perlindungan kawasan pantai sebelum dilanjutkan dengan pembangunan infrastruktur pengamanan pesisir,” pungkasnya.
Baca Juga: Satgas FPU 7 Polri Sukses Kawal Capres di Afrika Tengah
Kunjungi Youtube:Matapadma










Hari ini : 1627
Bulan ini : 18050
Tahun ini : 37382
Total Kunjungan : 91530
Who's Online : 6