Demak, Matapadma— Harapan baru mulai tumbuh di tengah genangan air yang tak kunjung surut. Warga Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, kini memiliki rumah apung. Sebuah inovasi yang memberi napas segar bagi kehidupan mereka setelah puluhan tahun hidup berdampingan dengan air laut.
Program rumah apung ini menarik perhatian Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah. Dipimpin langsung oleh Ketua Komisi D, Ida Nursa’dah, rombongan melakukan kunjungan kerja ke lokasi untuk meninjau kondisi warga sekaligus melihat progres pembangunan rumah apung yang kini menjadi sorotan publik.
Sejauh ini, lima unit rumah apung telah rampung dibangun, sementara sepuluh unit lainnya masih dalam proses penyelesaian. Dari total tersebut, tiga unit merupakan bantuan CSR dari Bank Jateng, sedangkan sisanya hasil kerja sama antara APBD Kabupaten Demak dan swadaya penerima bantuan. Setiap rumah dibangun dengan nilai sekitar Rp120 juta per unit.
“Rumah apung ini menjadi solusi bagi warga yang hidup di wilayah yang sudah berubah menjadi lautan. Saat air laut pasang, rumah ikut naik, jadi tidak lagi terendam,” ujar Ida Nursa’dah saat meninjau lokasi, Selasa (11-11-2025).
DPRD Kabupaten Demak Tetapkan Hasil Reses Masa Sidang Kedua Tahun 2025
Menurut Ida, bantuan pembangunan rumah apung memang dilakukan secara bertahap karena keterbatasan anggaran. Namun, melihat manfaat besar yang dirasakan warga, pihaknya akan mendorong agar program rumah apung kembali dianggarkan dalam APBD Provinsi Jawa Tengah tahun 2026.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan Disperkim Jateng dan Dinperkim Kabupaten Demak agar program ini berlanjut. Ini bentuk komitmen kami untuk mendukung kehidupan layak bagi masyarakat pesisir,” tambahnya.
Selain persoalan hunian, Ida juga menyoroti pentingnya akses transportasi bagi warga. Kondisi wilayah yang sudah tergenang air membuat mobilitas sehari-hari semakin sulit.
Bupati Eisti’anah Dorong Transparansi dan Pengawasan Bersama dalam Pengelolaan Dana Desa
“Transportasi juga harus dipikirkan. Kalau anggaran belum memungkinkan, bisa kita dorong melalui CSR perusahaan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Timbulsloko, Nadhiri, menjelaskan bahwa desanya dihuni sekitar 1.100 kepala keluarga (KK), dengan 140 KK tinggal di Dukuh Timbulsloko dan 50 KK di Dukuh Bogorame.
“Kondisi paling parah memang di Dukuh Timbulsloko. Sudah 15 tahun daerah kami terendam air rob. Kami berharap semua warga nantinya bisa memiliki rumah apung,” tutur Nadhiri.
Program rumah apung ini tidak hanya menjadi solusi teknis bagi permukiman pesisir, tetapi juga simbol keteguhan dan semangat warga Demak dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Di tengah pasang surut kehidupan dan naiknya air laut, rumah apung menjadi bukti bahwa warga pesisir tetap mampu bertahan, mengapung, bukan tenggelam, oleh keadaan.
Baca Juga: Ringankan Beban, Tukang Becak Lansia di Demak Terima Bantuan Becak Listrik
Kunjungi Youtube: Matapadma














Hari ini : 105
Bulan ini : 951
Tahun ini : 34545
Total Kunjungan : 335526
Who's Online : 6