Bekasi, Matapadma – Guru pengajar di Sekolah Rakyat Balai Besar Sentra Terpadu Pangudi Luhur Kementerian Sosial menerapkan metode pembelajaran kontekstual dan interaktif guna membangkitkan minat belajar siswa dari keluarga prasejahtera di Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (19/10/2026).
Inisiatif pendidikan nonformal yang digagas Kementerian Sosial tersebut menyasar anak-anak jalanan, pemulung, dan kalangan kurang mampu yang sempat mengalami putus sekolah agar dapat kembali mengakses hak belajar setara serta membangun rasa percaya diri.
Guru pengampu mata pelajaran matematika Sekolah Rakyat Bekasi, Yumar Dwi Pralita, mengatakan bahwa pendekatan belajar bagi siswa rentan menuntut fleksibilitas tinggi dan kesabaran ekstra dibanding mengajar di sekolah formal reguler.
Baca Juga: Pemkab Pasaman Barat Kembali Berlakukan Pembelajaran Tatap Muka Usai Kualitas Udara Membaik
“Anak-anak di sini punya latar belakang berbeda dan sebagian besar sempat trauma atau minder dengan pelajaran hitungan, jadi kita harus pakai pendekatan bermain sambil belajar agar mereka tidak merasa terbebani,” ujar Yumar di sela kegiatan belajar.
Ia menjelaskan bahwa materi matematika disajikan melalui peragaan benda nyata dan simulasi transaksi sehari-hari agar para siswa sekolah rakyat dapat langsung memahami manfaat praktis dari konsep angka serta logika berhitung.
“Ketika mereka melihat langsung hubungan antara angka dengan kehidupan sehari-hari, antusiasme dan rasa ingin tahu mereka langsung meningkat drastis,” tuturnya.
Baca Juga: Inovasi Mahasiswa UMS Sulap Bunga Telang dan Tempurung Kelapa Jadi Produk Usaha Warga Sukoharjo
Selain penanaman materi akademik dasar, proses belajar di lingkungan sentra terpadu ini juga menitikberatkan pada pembentukan karakter, kedisiplinan diri, dan etika berkomunikasi antarsiswa.
Yumar menambahkan bahwa tantangan terbesar yang kerap dihadapi para pengajar adalah menjaga konsistensi kehadiran siswa karena beberapa di antaranya masih memiliki beban membantu ekonomi keluarga.
“Tantangan utamanya memang konsistensi kehadiran, namun saat melihat mereka mulai bisa membaca dan berhitung dengan lancar, ada kepuasan batin yang sangat luar biasa bagi kami para pendidik,” jelasnya.
Ia berharap keberadaan program sekolah rakyat dapat terus diperluas dan didukung sarana penunjang yang memadai agar generasi muda dari kelompok marjinal memiliki peluang masa depan yang jauh lebih cerah.
“Harapan kami, anak-anak ini punya bekal masa depan yang kuat dan tidak lagi dipandang sebelah mata di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Baca Juga: Prasejarah Leang-Leang Maros Pukau Dubes Inggris, Buka Peluang Kolaborasi Riset Budaya
Kunjungi Youtube: Matapadma










Hari ini : 1383
Bulan ini : 16173
Tahun ini : 35505
Total Kunjungan : 89653
Who's Online : 31