Ruteng, Matapadma – Pemerintah Kabupaten Manggarai menetapkan langkah percepatan rehabilitasi fisik dengan memprioritaskan agenda rekonstruksi rumah bagi kelompok warga lanjut usia terdampak bencana gempa bumi di wilayah Nusa Tenggara Timur hingga Senin (19/10/2026).
Berdasarkan rekapitulasi data Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat, guncangan gempa bumi telah merusak sedikitnya 34.622 unit bangunan rumah, dengan rincian 2.220 rumah mengalami rusak berat, 6.129 rumah rusak sedang, serta memaksa 8.392 jiwa bertahan di tenda-tenda pengungsian darurat.
Bupati Manggarai, Herybertus Nabit, menyampaikan bahwa kelompok masyarakat lanjut usia menjadi pihak yang paling rentan secara ekonomi maupun psikososial, mengingat mereka sudah kehilangan daya fisik untuk mencari nafkah mandiri guna membiayai perbaikan tempat tinggal.
“Gempa Agustus 2026 lalu menghancurkan rumah-rumah mereka, sementara warga lansia itu sudah tidak punya kemampuan lagi untuk bekerja mencari uang untuk membangun kembali rumah mereka,” kata Herybertus di Posko Tanggap Darurat Kabupaten Manggarai, Ruteng.
Ia menjelaskan pemulihan hunian bagi para lansia bukan sekadar menyediakan tempat berteduh dari cuaca dingin pegunungan Flores, melainkan langkah vital untuk membangkitkan kembali kestabilan mental dan harapan hidup para penyintas usia senja.
“Membangun rumah mereka kembali berarti menumbuhkan harapan untuk melanjutkan kehidupan mereka,” ujarnya.
BGN Gelar Sidang Etik dan Copot Korwil SPPG Purwakarta Terkait Dugaan Kekerasan di Bogor
Pemerintah daerah merancang seluruh pembangunan fisik bangunan pascabencana menggunakan standar spesifikasi konstruksi tahan gempa, yang disusun melalui kerja sama teknis bersama kalangan akademisi dari Universitas Nusa Cendana dan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.
“Sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Nusa Cendana dan ITN Malang telah membantu kami dalam memberikan modul konsep rumah tahan gempa,” jelasnya.
Dari total pengungsi yang terbagi atas 1.301 warga di 17 posko terpusat serta 7.091 warga di tenda mandiri, pemerintah daerah mendata sebanyak 1.054 jiwa tergolong dalam kelompok rentan darurat, mencakup 335 anak-anak, 267 balita, 55 warga penyandang disabilitas, serta 265 orang lanjut usia yang memerlukan penanganan prioritas kesehatan dan pendampingan psikososial intensif.
Pemerintah Kabupaten Manggarai memastikan penerapan struktur bangunan tahan gempa tersebut tidak hanya diaplikasikan pada rumah warga lansia, tetapi juga akan dijadikan pedoman baku dalam pelaksanaan program rehabilitasi serta rekonstruksi seluruh fasilitas publik, sarana pendidikan, dan pemukiman masyarakat luas di masa depan.
Baca Juga: Struktur Pemecah Ombak Hex-Brick Disiapkan di Pesisir Demak Antisipasi Abrasi Pantura
Kunjungi Youtube: Matapadma








Hari ini : 110
Bulan ini : 16533
Tahun ini : 35865
Total Kunjungan : 90013
Who's Online : 17