Semarang, Matapadma – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang mengeluarkan peringatan dini terkait peningkatan ancaman karhutla di tengah kondisi cuaca panas ekstrem yang melanda Jawa Tengah.
Kenaikan suhu udara yang terjadi secara merata di kawasan pantai utara dan dataran rendah memicu tingkat kekeringan vegetasi hutan yang signifikan serta meningkatkan kerentanan terjadinya titik api.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Noor Jannah Indriyani, mengatakan suhu udara maksimum di wilayah perkotaan seperti Semarang dan Surakarta diprakirakan melonjak tajam hingga mencapai 37 derajat Celsius.
“Suhu udara di dataran rendah Jawa Tengah berkisar antara 23 hingga 35 derajat Celsius, namun untuk wilayah perkotaan seperti Semarang dan Solo berpotensi menyentuh angka 37 derajat Celsius dengan kelembapan udara yang cukup rendah,” kata Noor Jannah di Semarang, Senin (19/10/2026).
Demak Jadi Lokasi Percontohan Nasional Perlindungan Pesisir Berbasis Alam
Ia menjelaskan bahwa kondisi atmosfer kering disertai tiupan angin timuran berkecepatan 10 hingga 30 kilometer per jam dapat mempercepat perambatan api pada seresah daun kering di kawasan perbukitan dan area hutan rakyat.
“Masyarakat dan pengelola kawasan hutan diimbau untuk tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan atau membuka lahan perkebunan dengan cara membakar karena risiko perambatan api sangat tinggi,” jelasnya.
Selain ancaman karhutla di daratan, pihak stasiun meteorologi turut mengeluarkan peringatan dini keselamatan maritim bagi nelayan dan operator pelayaran sehubungan dengan potensi gelombang tinggi di wilayah perairan terbuka.
“Tinggi gelombang laut di perairan utara Jawa Tengah diprakirakan berada pada rentang 0,5 hingga 1,5 meter, sedangkan perairan selatan Jawa Tengah berpotensi mengalami gelombang laut tinggi berkisar antara 2,5 hingga 4,0 meter,” ungkapnya.
BMKG Jelaskan Sebaran Asap Karhutla di Atmosfer Jakarta dan Tanggapi Peta NASA
Lebih lanjut, ia mengimbau masyarakat untuk menjaga kecukupan asupan cairan tubuh dan mengurangi aktivitas fisik luar ruangan tanpa pelindung pada periode siang hari guna menghindari risiko sengatan panas.
“Gunakan payung atau topi serta perbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi saat beraktivitas di bawah paparan sinar matahari langsung,” pesannya.
BMKG berharap seluruh aparat pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah Jawa Tengah meningkatkan kesiapsiagaan armada pemadam serta memperketat patroli pemantauan titik panas.
Baca Juga: Menko Muhaimin Sebut Sekolah Rakyat Jadi Strategi Memutus Kemiskinan Ekstrem
Kunjungi Youtube: Matapadma









Hari ini : 472
Bulan ini : 16895
Tahun ini : 36227
Total Kunjungan : 90375
Who's Online : 18