Manggarai, Matapadma – Pemerintah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, memfokuskan rekonstruksi rumah lansia yang terdampak bencana gempa bumi sebagai program prioritas penanganan pemulihan infrastruktur wilayah pada Minggu (18/10/2026).
Berdasarkan pendataan Posko Tanggap Darurat Kabupaten Manggarai, total kerusakan fisik akibat guncangan gempa tersebut menyentuh angka 34.622 unit rumah tinggal, dengan rincian 2.220 bangunan mengalami rusak berat dan 6.129 bangunan berkategori rusak sedang yang tersebar di belasan kecamatan.
Dampak bencana alam tersebut juga memaksa ribuan keluarga meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mengungsi di berbagai posko darurat terpadu maupun mendirikan tenda darurat di pekarangan sekitar puing bangunan yang roboh.
Bupati Manggarai, Herybertus Nabit, menjelaskan bahwa warga kelompok usia lanjut menjadi prioritas utama penanganan mengingat keterbatasan fisik dan ekonomi mereka untuk mendirikan kembali tempat tinggal yang roboh.
Dampak Karhutla Meluas, Kemenhub Catat 2.458 Penerbangan Domestik Terganggu
“Gempa Agustus 2026 lalu menghancurkan rumah-rumah mereka, sementara warga lansia itu sudah tidak punya kemampuan lagi untuk bekerja mencari uang untuk membangun kembali rumah mereka,” ujar Herybertus di Ruteng, Manggarai.
Ia menyampaikan bahwa kondisi kehilangan hunian menimbulkan tekanan psikososial yang sangat berat bagi kalangan lanjut usia, sehingga perbaikan atap tempat berteduh merupakan kunci utama dalam memulihkan semangat hidup mereka.
Satgas Damai Cartenz Gerebek Sarang KKB di Intan Jaya dan Sita 559 Peluru
“Membangun rumah mereka kembali berarti menumbuhkan harapan untuk melanjutkan kehidupan mereka,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Bupati Manggarai menerangkan bahwa seluruh proses perbaikan bangunan warga nantinya wajib menerapkan standardisasi rancang bangun tahan gempa dengan menggandeng kalangan akademisi perguruan tinggi terkemuka.
“Sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Nusa Cendana dan ITN Malang telah membantu kami dalam memberikan modul konsep rumah tahan gempa,” imbuhnya.
Rancangan konstruksi ramah gempa tersebut ke depannya tidak hanya menyasar hunian warga lansia semata, melainkan juga diterapkan secara terpadu pada rehabilitasi gedung sekolah dan sarana pelayanan publik masyarakat yang mengalami keretakan struktural.
Pemerintah daerah setempat mencatat bahwa saat ini sebanyak 1.301 warga masih bertahan di 17 titik posko penampungan serta 7.091 jiwa menempati tenda darurat secara mandiri, dengan 1.054 jiwa di antaranya merupakan kelompok rentan seperti 265 warga lansia, 335 anak-anak, 267 balita, dan 55 penyandang disabilitas.
Pemerintah Kabupaten Manggarai terus mengupayakan koordinasi lintas sektor bersama pemerintah provinsi dan lembaga kemanusiaan agar pasokan material pembangunan hunian tahan gempa dapat didistribusikan secara cepat dan tepat sasaran kepada para lansia.
Baca Juga: Sekjen PBB Temui Prabowo di Hambalang Bahas Perdamaian Global dan Palestina
Kunjungi Youtube: Matapadma






Hari ini : 812
Bulan ini : 15602
Tahun ini : 34934
Total Kunjungan : 89082
Who's Online : 5