Demak, Matapadma – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang Posko 88 menggelar workshop pengendalian hama tikus menggunakan belerang dan alat empos di Gedung Serbaguna Desa Temuroso, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jumat (31-07-2026).
Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk kepedulian mahasiswa KKN terhadap permasalahan pertanian yang dihadapi masyarakat Desa Temuroso, khususnya serangan hama tikus yang dapat merusak tanaman dan berpotensi menurunkan hasil pertanian.
Koordinator Desa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo, Muhammad Arya Dillah Hama, mengatakan serangan hama tikus menjadi salah satu persoalan yang cukup mengganggu para petani di Desa Temuroso. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa untuk memberikan edukasi mengenai alternatif pengendalian hama yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi pertanian masyarakat.
“Hama tikus cukup mengganggu para petani karena dapat merusak tanaman dan berdampak pada hasil pertanian. Karena itu, kami mencoba memberikan edukasi mengenai salah satu alternatif pengendalian hama melalui penggunaan belerang dan alat empos,” ungkap Muhammad Arya Dillah Hama.
Edukasi Anti Pelanggaran Pemilu, Bawaslu Demak Beri Pendampingan Pemilos di SLB
Menurut Arya, pelaksanaan workshop tersebut merupakan respons mahasiswa terhadap keluhan dan persoalan yang disampaikan masyarakat, khususnya para petani. Ia menilai mahasiswa perlu memahami kebutuhan masyarakat agar program kerja yang dilaksanakan tidak hanya bersifat formal, tetapi juga dapat memberikan manfaat secara nyata.
“Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menjalankan program kerja, tetapi juga perlu memahami kebutuhan masyarakat dan berusaha memberikan solusi yang bermanfaat,” katanya.
Dalam workshop tersebut, Pihaknya memberikan penjelasan mengenai tata cara kerja dan penggunaan alat empos dengan memanfaatkan belerang sebagai salah satu alternatif dalam upaya mengendalikan hama tikus. Materi disampaikan mulai dari tahap persiapan hingga penggunaan alat pada lokasi yang menjadi tempat persembunyian tikus.
“Kami memberikan pemaparan mengenai cara penggunaan alat empos dengan memanfaatkan belerang, mulai dari menyiapkan belerang, memasukkannya ke dalam alat empos, kemudian menggunakannya pada lubang atau jalur yang menjadi tempat persembunyian tikus,” ujarnya.
Sedekah Air Bersih, Wartawan dan Polres Demak Peduli Ponpes Girikusuma
Selain penyampaian materi, para petani juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman serta kendala yang mereka hadapi dalam mengatasi serangan hama tikus di lahan pertanian. Sesi tersebut menjadi ruang diskusi antara mahasiswa dan masyarakat untuk membahas berbagai persoalan yang ditemukan di lapangan.
“Melalui diskusi ini, kami ingin mendengar secara langsung pengalaman para petani dalam menghadapi serangan hama tikus, termasuk kendala yang mereka alami di lapangan. Dari berbagai masukan tersebut, kami bersama-sama membahas alternatif pengendalian yang sekiranya dapat diterapkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat Desa Temuroso,” ujarnya.
Arya berharap kegiatan tersebut dapat mendorong adanya upaya pengendalian hama tikus yang dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan. Menurutnya, kerja sama antara mahasiswa, pemerintah desa, dan kelompok tani diperlukan agar permasalahan hama yang dihadapi petani dapat ditangani sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Harapannya, kerja sama antara mahasiswa, pemerintah desa, dan kelompok tani dapat terus terjalin sehingga upaya pengendalian hama tikus dapat dilakukan secara bersama-sama,” pungkasnya.
Baca Juga: Tawuran Antarpelajar di Demak Berujung Maut, 1 Pelajar Tewas Tertusuk Celurit
Kunjungi Youtube: Matapadma







Hari ini : 70
Bulan ini : 5582
Tahun ini : 10786
Total Kunjungan : 64934
Who's Online : 1