Demak, Matapadma – Desa Bakalrejo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah menggelar kirab budaya Apitan dan sedekah bumi pada Senin (11/5/2026). Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT sekaligus upaya melestarikan tradisi budaya warisan leluhur.
Kepala Desa Bakalrejo, Agus Dwi Susanto, menyampaikan bahwa tradisi Apitan dan sedekah bumi memiliki makna penting bagi masyarakat. Selain sebagai ungkapan rasa syukur, kegiatan tersebut juga bertujuan menjaga dan melestarikan budaya daerah agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Tujuan kami bagi Desa Bakalrejo yang pertama mengucap syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Semoga dalam kegiatan seperti ini kita bisa nguri-nguri budaya, sehingga masyarakat hidup makmur dan bumi yang kita injak menjadi keberkahan untuk kita semua,” ujarnya.
Ia berharap Desa Bakalrejo dapat menjadi desa yang gemah ripah loh jinawi, yakni daerah yang subur, makmur, aman, dan sejahtera bagi seluruh masyarakatnya.
Revisi RTRW Demak 20 Tahun ke Depan Dibahas, Penanganan Rob dan Giant Sea Wall Jadi Sorotan
Dalam kirab budaya tersebut, masyarakat mengarak enam gunungan hasil bumi yang melambangkan enam dukuh di Desa Bakalrejo. Gunungan itu menjadi simbol kebersamaan warga serta bentuk rasa syukur atas hasil panen yang nantinya kembali dinikmati masyarakat.
“Kita ada arak-arak keliling gunungan yang terdiri dari enam gunungan karena di Desa Bakalrejo terdiri dari enam dukuh. Ini merupakan simbolis dari warga dan untuk dikembalikan lagi kepada warga,” katanya.
Kegiatan juga dimeriahkan dengan kolaborasi berbagai kesenian tradisional dan modern. Menurut Agus, perpaduan tersebut dilakukan agar generasi muda dan masyarakat semakin antusias mengikuti tradisi budaya.
“Kalau tidak diselingi dengan yang modern, secara otomatis budaya kita akan hilang,” tambahnya.
Haris Kurniawan Resmi Jadi PLT Ketua PSSI Demak, Fokus Siapkan Porprov 2026
Selain kirab gunungan, tradisi keliling kampung yang diikuti perangkat desa juga memiliki makna tersendiri. Tradisi itu menjadi simbol bahwa perangkat desa harus selalu siap, tanggap, dan sigap dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Tujuannya bahwa kita mempunyai pedoman, kita melayani masyarakat harus ekstra dan sigap untuk melayani masyarakat,” jelasnya.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan tradisi guyur dawet yang dipercaya sebagai simbol tolak bala agar desa dijauhkan dari berbagai marabahaya.
“Semoga Desa Bakalrejo aman, tenteram, sentosa, dan hasil bumi melimpah,” pungkasnya.
Kunjungi Youtube: Matapadma













Hari ini : 249
Bulan ini : 3027
Tahun ini : 46705
Total Kunjungan : 347686
Who's Online : 6