Jakarta, Matapadma – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menginstruksikan seluruh pimpinan perguruan tinggi di wilayah terpapar bencana kabut asap untuk menerapkan skema perkuliahan daring serta relaksasi akademik demi menjamin keselamatan mahasiswa dan tenaga pengajar.
Kebijakan adaptif tersebut diterbitkan menyusul memburuknya kualitas udara di beberapa provinsi di Pulau Sumatera dan Kalimantan akibat kebakaran hutan dan lahan yang telah memaksa pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat pencemaran udara.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Rodiansono, menyampaikan bahwa keselamatan serta kesehatan seluruh sivitas akademika merupakan prioritas tertinggi yang tidak boleh dikompromikan di tengah ancaman infeksi saluran pernapasan akut.
“Kemdiktisaintek telah mengimbau pimpinan PTN dan PTS di wilayah terdampak karhutla untuk mengambil langkah adaptif guna melindungi kesehatan sivitas akademika tanpa menghentikan hak belajar mahasiswa,” ujar Rodiansono di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Kapolda Metro Dorong Pengenalan Literasi AI di Sekolah Muhammadiyah
Ia menjelaskan bahwa pimpinan kampus memiliki diskresi penuh untuk merumuskan kebijakan operasional yang fleksibel, mulai dari penyesuaian jam kerja pegawai, pergeseran jadwal praktikum, hingga optimalisasi pembelajaran daring berbasis sistem manajemen pembelajaran elektronik.
“Penerapan perkuliahan daring memungkinkan proses transfer ilmu tetap berlangsung efektif dari kediaman masing-masing sehingga paparan langsung terhadap partikel polusi udara beracun di area luar ruang kampus dapat diminimalkan,” tuturnya.
Selain penyesuaian kegiatan belajar mengajar, Kemdiktisaintek juga mendorong perguruan tinggi untuk menggerakkan tridarma perguruan tinggi melalui aksi nyata kemanusiaan, seperti pembagian masker medis, penyediaan fasilitas rumah oksigen gratis bagi masyarakat, serta penerjunan mahasiswa relawan penanggulangan karhutla.
BMKG Ingatkan Potensi Karhutla di Jawa Tengah Imbas Cuaca Panas Ekstrem
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh, Murthalamuddin, menyatakan bahwa koordinasi lintas sektor pendidikan sangat krusial dalam menghadapi krisis lingkungan karena keselamatan peserta didik dan pendidik harus ditempatkan sebagai asas utama.
“Kami mengapresiasi sinkronisasi kebijakan antara perguruan tinggi dan sekolah dasar menengah agar anak-anak dan generasi muda terlindungi secara komprehensif dari bahaya kabut asap tebal,” pungkas Murthalamuddin.
Pemerintah bersama kementerian terkait mengimbau jajaran sivitas akademika untuk terus berkoordinasi secara berkala dengan stasiun pengamat cuaca BMKG dan badan penanggulangan bencana daerah setempat hingga mutu udara kembali dinyatakan aman untuk penyelenggaraan kegiatan akademik tatap muka secara normal.
Baca Juga: Pemkab Jember Terapkan WFH ASN Imbas Krisis Distribusi BBM
Kunjungi Youtube: Matapadma








Hari ini : 622
Bulan ini : 17045
Tahun ini : 36377
Total Kunjungan : 90525
Who's Online : 10