Demak, Matapadma — Sebanyak delapan desa di Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah terdampak banjir limpasan akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang di Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur. Meski tidak terdampak secara langsung, luapan air menggenangi sejumlah wilayah, terutama area persawahan milik warga.
Camat Karangtengah, Maftukhah, menjelaskan desa yang terdampak meliputi Ploso, Grogol, Karangsari, Ndukun, Klitih, Pidodo, Pulosari, serta sebagian wilayah Sampang. Genangan mulai meluas sejak akhir pekan lalu dan terus bertambah hingga menjangkau titik-titik baru.
“Kecamatan Karangtengah sebenarnya tidak terdampak langsung, namun terkena limpasan dari tanggul jebol di Trimulyo. Yang paling terdampak adalah sawah-sawah warga,” ujar Maftukhah usai rapat koordinasi administrasi tata pemerintahan desa tahun 2026 di Aula Kecamatan Karangtengah, Rabu (08-04-2026).
Ia menyebutkan, ketinggian air berkisar antara 10 hingga 20 sentimeter. Meski relatif rendah, genangan tersebut cukup mengganggu aktivitas warga, bahkan sempat masuk ke beberapa ruang kelas di SMP Negeri 1 Karangtengah. Selain itu, MTs Negeri 3 Demak di Desa Pulosari juga turut terdampak.
Lonjakan Pemohon SKCK Pasca Lebaran, Ratusan Warga Padati Polres Demak
Kerugian terbesar, lanjutnya, dialami para petani. Tanaman padi yang sudah ditanam terendam air dan berpotensi gagal panen. Data sementara dari petugas pertanian baru mencakup lahan yang telah ditanami, sementara lahan yang belum ditanam belum masuk dalam pendataan.
“Tanaman yang sudah ditanam kemungkinan bisa mati, sehingga petani harus melakukan tanam ulang,” jelasnya.
Menanggapi kondisi tersebut, pihak kecamatan telah menggelar rapat koordinasi yang melibatkan kepala desa, instansi terkait, serta dinas teknis seperti UPTD Dinputaru dan dinas pertanian. Penanganan difokuskan pada upaya normalisasi sungai yang mengalami pendangkalan.
Menurut Maftukhah, banyak sungai di wilayah Karangtengah dalam kondisi dangkal dan membutuhkan penanganan segera. Namun, sebagian sungai berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Jratunseluna, sehingga diperlukan koordinasi lintas sektor.
Meski banjir menggenangi sejumlah wilayah, tidak ada warga yang mengungsi. Air hanya menggenangi halaman rumah dan belum masuk ke dalam rumah warga.
Pihak kecamatan juga mengimbau masyarakat, khususnya petani, untuk menjaga kelestarian lingkungan, seperti tidak membuang sampah ke sungai dan menanam pohon di sepanjang tanggul guna mencegah longsor serta jebolnya tanggul di masa mendatang.
“Ini menjadi bencana bersama. Perlu kesadaran semua pihak untuk menjaga sungai agar tidak terjadi pendangkalan,” pungkasnya.
Baca Juga: Polres Demak Siagakan Ratusan Personel, Tanggul Jebol di Guntur Picu Banjir Meluas
Kunjungi Youtube: Matapadma












Hari ini : 475
Bulan ini : 3467
Tahun ini : 37061
Total Kunjungan : 338042
Who's Online : 4